Ayat Renungan
Archive
Popular Posts
-
MULA NI PAR.JONGJONG NI H Ch B (HKI) DI PATANE - PORSEA HATA PATUJOLO Dung tarbortik barita, jala sar dohot alu-alu p...
-
Dalam rangka menyambut usianya yang ke 80 Tahun pada tahun 2013, maka sebagai rasa syukur kepada Kristus sebagai Kepala Gereja akan d...
-
Huria Kristen Indonesia adalah sebuah gereja Lutheran di Indonesia yang berkantor pusat di Pematangsiantar , Sumatera Utara . Gereja ini t...
-
JUBILEUM 50 TAON HKI-PATANE Marningot parjongjong ni Huria on, di TgI. 18 Juli 1933 na dimulai di Pasar Porsea; tubu ma roha ...
-
Bagi orang percaya salib Kristus mempunyai makna yang istimewa betul. Dari satu segi salib Kristus melambangkan penderitaanNya dan kematianN...
Senin, 24 September 2012
ACARA PARHEHEON PNB HKI SE DAERAH III TOBASA
Senin, 03 September 2012
Kugendong Engkau Sampai Ajal Tiba
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!
Jika engkau tidak ingin membagi cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.
Akan tetapi, kita engkau mau membagi cerita ini kepada sahabat kenalanmu, maka satu hal yang pasti bahwa Tuhan sedang menggunakanmu untuk menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sekarang mengalami masalah dalam pernikahan mereka.
Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat yang menikah maupun
yang berencana untuk menikah,
sumber : http://jerusalembaru.blogspot.com/
Harapan Tiga Pohon
Harapan Tiga PohonSuatu kali peristiwa ada tiga pohon di atas sebuah bukit dalam sebuah hutan. Mereka sedang berbincang -bincang tentang harapan-harapan dan mimpi-mimpi mereka.
Pohon yang pertama berkata, "Suatu hari nanti aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat penyimpanan harta. Aku bisa dihiasi dengan ukiran-ukiran yg rumit dan setiap orang akan melihat kecantikanku".
Kemudian pohon yang kedua berkata, "Suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi lautan sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku".
Akhirnya pohon yg ketiga berkata, "Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi dan terkuat di hutan ini. Orang akan memandangku dari atas puncak bukit dan dapat melihat carang-carangku. Kalau orang berpikir tentang surga dan Allah, betapa dekatnya jangkauanku ke sana. Aku akan menjadi pohon yg terbesar di sepanjang waktu dan orang akan mengingat aku senantiasa".
Setelah beberapa tahun berdoa, mimpi mereka menjadi kenyataan, datanglah satu kelompok penebang kayu ke hutan itu. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon pertama ia berkata, "Tampaknya pohon ini kuat sekali, aku kira ini dapat dijual kepada seorang tukang kayu", dan ia mulai menebang pohon itu. Pohon tersebut bahagia sekali karena ia tahu bahwa si tukang kayu akan menjadikannya sebuah peti penyimpan harta.
Seorang penebang kayu lainnya berkata kepada pohon yang kedua, "Tampaknya pohon ini kuat dan aku dapat menjualnya kepada tukang pembuat kapal". Pohon tersebut bahagia karena ia tahu ia akan menjadi sebuah kapal yg besar.
Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon yg ketiga, pohon tersebut ketakutan karena ia tahu kalau ia sampai ditebang, maka mimpinya tidak akan menjadi kenyataan. Salah seorang penebang kayu berkata, "Aku tidak perlu sesuatu yang spesial dari pohon ini jadi aku bawa saja", dan ditebanglah pohon itu.
Ketika pohon pertama dibawa kepada tukang kayu, ia dijadikan sebuah kotak tempat makanan hewan. Ia diletakkan di sebuah kandang dan dipenuhi dengan jerami. Hal ini bukanlah seperti yang pohon tersebut doakan.
Pohon kedua dipotong-potong dan dijadikan sebuah perahu kecil pemancing ikan. Mimpinya menjadi sebuah kapal yang besar yang dapat membawa para raja berakhir sudah.
Pohon ketiga di potong-potong dalam ukuran yang besar besar dan ditinggalkan begitu saja dalam kegelapan.
Tahun demi tahun berlalu dan pohon-pohon tersebut sudah lupa akan mimpi mereka. Suatu hari ada seorang pria dan wanita datang ke kandang tersebut. Si wanita melahirkan seorang bayi dan meletakkan bayi tersebut dalam kotak makanan hewan (yang dibuat dari pohon pertama) yang dipenuhi jerami. Si pria berharap mendapatkan tempat tidur untuk bayi tersebut tapi palungan itulah yg menjadi tempatnya. Pohon tersebut dapat merasakan betapa penting peristiwa tersebut dan ia telah menyimpan harta yang termulia sepanjang zaman.
Tahun-tahun berikutnya, sekelompok orang berada dalam sebuah perahu pemancing ikan yang terbuat dari pohon yang kedua. Salah seorang dari mereka sedang kelelahan dan akhirnya tertidur. Ketika mereka ada di tengah -tengah laut, gelombang besar melanda mereka dan pohon tersebut tidak menyangka kalau ia cukup kuat untuk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam perahu tersebut. Orang-orang tersebut membangunkan orang yang sedang tidur itu, kemudian ia berdiri sambil berkata "Diam, tenanglah !", dan gelombang tersebut berhenti. Kali ini pohon tersebut menyadari bahwa ia telah membawa raja di atas segala raja dalam perahunya.
Akhirnya ada seorang datang mendapatkan pohon yang ketiga. Pohon tersebut diseret sepanjang jalan dan banyak yang mengejek orang yang sedang memikul kayu tersebut. Ketika mereka sampai pada suatu tempat, orang tersebut dipakukan pada kayu tersebut dan diangkat tinggi sampai mati di atas sebuah puncak bukit. Ketika hari Minggu tiba, pohon tersebut menyadari bahwa ia cukup kuat untuk tegak berdiri diatas puncak dan berada sedekat mungkin dengan Allah karena Yesus telah disalibkan pada kayu pohon tersebut.
sumber: http://www.pondokrenungan.com
Rabu, 29 Agustus 2012
Bubuk Kopi
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.
Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”
Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.
Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?
Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.
Sumber : http://www.kumpulankotbah.com/general-articles/bubuk-kopi.html
Sabtu, 31 Maret 2012
Renungan JUMAT AGUNG

Peristiwa kematian yang dialami oleh umat manusia sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah. Sejak awal kehidupan dan peradabannya, umat manusia telah mengenal peristiwa kematian sebagai bagian yang sangat integral dari kehidupan ini. Kita semua telah mengalami kelahiran, proses pertumbuhan dan perjuangan, lalu kita satu demi satu akan mengakhiri kehidupan ini dengan peristiwa kematian. Karena itu semua tokoh sejarah tanpa terkecuali telah mengalami peristiwa kematian, baik penakluk dunia yang monumental seperti raja Nebukadnezar dari Babel, Aleksander Agung dari Yunani; maupun para tokoh ternama dunia seperti Albert Eistein, Michel Faraday, James Watt, Thomas Alfa Edision, Charles Dickens, dan sebagainya. Jadi mengapa kita harus selalu merayakan kematian Yesus Kristus dari Nazaret? Bukankah dari sudut tertentu, Yesus Kristus dari Nazaret juga sebagai tokoh sejarah? Bukankah kematian Yesus tidak berbeda jauh dengan kematian umat manusia lainnya? Sesungguhnya jutaan manusia juga pernah mengalami kematian yang tragis dengan cara yang sangat menyedihkan sebagaimana yang pernah dialami oleh Yesus Kristus dengan cara wafat di atas kayu salib. Dalam perang dunia II, sebanyak 6 juta lebih orang Yahudi mati dieksekusi oleh Hitler. Di Indonesia dalam berbagai kerusuhan politik, sekian ribu orang dari rakyat telah menjadi korban dalam peristiwa 30 September 1965; dan juga ribuan orang mati secara mengenaskan dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mengapa kita tidak merayakan secara khusus untuk memperingati kematian dari para korban yang umumnya para rakyat yang tidak bersalah? Jadi cara kematian Yesus Kristus di atas kayu salib sebenarnya merupakan salah satu bentuk kematian yang tragis dan menyedihkan dari kehidupan ini.
Walau cara kematian Yesus Kristus merupakan salah satu kematian yang tragis dan menyedihkan, tetapi makna dan pengaruh kematianNya tidaklah sama dengan kematian semua umat manusia dari abad ke abad. Peristiwa kematian Kristus sangatlah unik, mengandung misteri yang tidak terpecahkan, dan membawa pengaruh serta transformasi yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia sepanjang abad. Makna kematian Kristus tidak sama dengan kematian para tokoh sejarah, para nabi, rasul-rasul atau orang-orang ternama kaliber dunia manapun. Sebab kematian Kristus di atas kayu salib dua ribu tahun yang lalu telah membawa suatu perubahan yang radikal terhadap makna, nilai-nilai, filosofi, teologi, agama dan arah perjalanan sejarah umat manusia. Surat Ibrani berkata: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri” (Ibr. 10:19). Makna pengertian “oleh darah Yesus” menurut iman Kristen begitu sangat penting dan menentukan hakikat keselamatan umat manusia. Sebab tanpa melalui “darah Yesus” yaitu kematian Kristus di atas kayu salib, kita semua selaku umat manusia tidak mungkin dapat masuk ke dalam tempat kudus yaitu takhta Allah. Tanpa melalui “pencurahan darah Yesus”, kita semua akan tetap hidup di bawah kuasa dosa dan murka Allah. Tepatnya tanpa melalui kematian Kristus, semua umat manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dan hidup kekal di hadapan Allah. Mungkin tanpa kematian Kristus tetap umat manusia tetap dapat beragama, memiliki keyakinan yang sistematis, berbagai ritualitas yang indah dan pengajaran yang berhikmat. Tetapi tanpa darah Kristus, dengan usaha dan berbagai jasa perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia, sesungguhnya kita tidak dapat berkenan di hati Allah, atau kita tidak mungkin benar di hadirat takhta Allah. Bukankah di hadapan Allah segala kebajikan, perbuatan baik dan kesalehan kita seperti kain yang usang? Apakah yang dapat kita banggakan dengan berbagai perbuatan baik, hikmat, pengertian atau amal-ibadah kita? Dengan demikian alasan teologis dari surat Ibrani sangatlah jelas, yaitu melalui kematian dan korban darahNya, Kristus telah ditentukan oleh Allah untuk membuka jalan yang baru dan yang hidup. Jadi kematian Kristus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup, sehingga kita berani masuk ke tempat maha-kudus (having boldness to enter the Holiest by the blood of Jesus by a new and living way).
Teologia penebusan dosa dengan pencurahan darah telah dipraktekkan dalam kehidupan iman umat Israel sejak awal. Setiap umat yang berdosa untuk pengampunan dosanya wajiblah dia membawa korban penghapus dosa (asyam) atau korban penebus salah (hattath). Misalnya untuk korban penebus salah (hattath) dapat kita lihat di Im. 7:1-2, yaitu: “Inilah hukum tentang kurban penebus salah. Korban itu ialah persembahan maha kudus. Di tempat orang menyembelih korban bakaran, di situlah harus disembelih korban penebus salah, dan darahnya haruslah disiramkan pada mezbah itu di sekelilingnya”. Fungsi penumpahan darah hewan korban yang disembelih dalam konteks ini dihayati sebagai suatu peristiwa pendamaian antara Allah dengan umatNya. Sebab pengertian dosa dalam teologia umat Israel dan umat Kristen bukan sekedar suatu pelanggaran manusia terhadap hukum atau ketentuan Allah belaka; tetapi makna dosa dihayati sebagai suatu perlawanan atau pemberontakan yang eksistensial terhadap diri Allah sendiri. Itu sebabnya hukuman atas dosa oleh Allah seharusnya berupa kematian. Perbuatan dosa tidak dapat dibayar dengan sekedar perbuatan baik, pahala atau amal-ibadah seseorang. Pendamaian atas perbuatan dosa hanya dapat dibayar dengan penumpahan darah. Ibr. 9:22 berkata: “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa pengampunan darah tidak ada pengampunan”. Dalam hal ini hewan korban yang disembelih berfungsi sebagai “pengganti” (penebus) dosa atas umat atau orang yang berdosa, sehingga hewan korban untuk penghapus dosa (asyam) dan korban penebus salah (hattath) haruslah hewan yang tanpa cela. Walaupun ketentuan dan syarat hewan korban haruslah serba sempurna, namun bagaimana mungkin seekor atau ribuan hewan korban dan pencurahan darahnya di atas mezbah dapat “mengganti” (menebus) dosa seseorang? Jawabnya adalah: tidaklah mungkin! Atas kesadaran demikian diperlukan penebus dosa yang benar-benar sempurna, tak bercacat, yang kudus dan berkenan di hadirat Allah. Penebus dosa itu tidak ada yang dapat melakukannya, kecuali diri Kristus. Dalam kematianNya di atas kayu salib, Kristus telah ditentukan oleh Allah menjadi korban penebus dosa (asyam) dan juga menjadi korban penebus salah (hattath) bagi seluruh umat manusia. Surat Ibrani berkata: “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”. Jadi jelaslah alasan mengapa pencurahan darah Kristus mutlak diperlukan, karena hanya dengan darah Kristus sajalah yang memungkinkan umat yang percaya dapat masuk ke hadirat Allah dan berkenan kepadaNya. Darah Kristus yang ditumpahkan di atas kayu salib tersebut ditentukan oleh Allah, sehingga darah Kristus tersebut menjadi sangat efektif dan sempurna untuk membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kehidupan seluruh umat manusia. Sehingga melalui darah salib Kristus, kita telah diperdamaikan dengan Allah.
Pada waktu Kristus tergantung dalam sekarat maut di atas kayu salib, Dia tetap menunjukkan perhatianNya yang sangat besar terhadap Maria ibuNya. Dia menitipkan ibuNya kepada murid yang dikasihi, yaitu rasul Yohanes (Yoh. 19:26-27). Sekarat maut yang dialami oleh Kristus, tetap tidak membuat Dia lupa akan kewajiban dan tanggungjawabNya sebagai seorang anak yang setia dan mengasihi ibuNya. Menjelang kematianNya, Kristus tidak pernah berfokus kepada kepentingan diriNya sendiri. Saat Tuhan Yesus disalibkan, Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar, ungkapan-ungkapan kemarahan, kebencian dan kutukan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang disalib pada zaman itu. Sebaliknya perkataan-perkataan Kristus senantiasa penuh dengan pengampunan, ucapan berkat dan penghiburan kepada orang-orang yang berada di dekat salibNya. Dalam hal ini Kristus telah membuktikan diriNya sebagai korban yang sangat sempurna di hadapan Allah dan manusia. Bahkan saat Dia begitu haus menjelang detik-detik kematianNya, Kristus hanya menerima anggur asam untuk membasahi bibirNya yang kering. Sepanjang hidupNya Kristus sering diperlakukan secara buruk oleh dunia ini, tetapi kasih dan kesetiaanNya tidak pernah berubah atau berkurang sedikitpun. Kasih dan kesetiaanNya senantiasa total dan menyeluruh. Saat Dia akan menghembuskan nafasNya yang terakhir, perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30), lalu Dia wafat. Perkataan “sudah selesai” (“It is finished”) yang diucapkan oleh Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa seluruh hidupNya telah menjadi korban yang sempurna di hadapan Allah. Dia telah berhasil menyelesaikan seluruh karya Allah yang mendamaikan secara sempurna sampai pada akhirnya. Itu sebabnya karya Kristus yang “sudah selesai” di atas kayu salib pada hakikatnya menunjuk kepada tindakan yang bermakna “menyelesaikan” atau “menyempurnakan” (accomplish) secara lengkap. Sehingga kematianNya benar-benar dapat membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi umat manusia.
Makna teologis tentang kematian Kristus yang membuka suatu jalan yang baru dan yang hidup bagi manusia dapat memberikan kepada kita suatu perspektif iman yang “transformatif” saat kita menghadapi secara nyata kuasa maut berupa penderitaan, kepedihan, kegagalan dan kematian. Betapa sering kita terjebak dalam perasaan putus-asa dan kehilangan gairah hidup pada saat kita mengalami berbagai kesedihan, kegagalan, penderitaan dan kematian dari orang-orang yang kita kasihi. Pada saat yang demikian, kita merasa tidak sanggup lagi menjalani pergumulan kehidupan ini. Kita juga merasa tidak sanggup lagi melakukan apa yang baik seperti: berbagai ketentuan atau kewajiban agama, tanggungjawab untuk beribadah, berdoa dan melayani. Saat itu hidup kita seperti terkurung dalam api neraka, yang begitu menyiksa dan menyakitkan. Tetapi pada saat kita berada dalam bayang-bayang maut dan kekelaman “kematian”, tiba-tiba kita dapat mendengar ucapan Tuhan Yesus saat Dia akan menghembuskan nafasNya: “Sudah selesai!” Apa yang terjadi dalam diri kita selanjutnya? Bukankah pada saat itu kita merasakan atau mengalami seluruh beban yang begitu berat dan menindih kita tiba-tiba dapat terangkat lepas? Ucapan Kristus yang berkata: “Sudah selesai” memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga kita dapat menemukan suatu jalan yang baru dan jalan yang hidup di tengah-tengah berbagai persoalan hidup yang menerpa kita. Pengalaman transformatif ini mengingatkan saya akan karya dari John Bunyan (1628-1688) yang menulis suatu buku berjudul “The Pilgrim’s Progress from This World to That Which Is to Come”. Buku tersebut sangat populer dan diterbitkan pada tahun 1678 (kelak diterjemahkan dengan judul: “Perjalanan Seorang Musafir”). Dalam buku John Bunyan tersebut, dikisahkan bagaimana seorang tokoh bernama Kristen, tiba-tiba punggungnya dari hari ke hari makin membesar setelah dia membaca Alkitab. Makin didalami isi Alkitabnya, si Kristen merasakan punggungnya makin menanggung beban yang sangat berat. Akhirnya dia memutuskan melakukan perjalanan sebagai seorang musafir untuk mengetahui kebenaran firman Tuhan.Dalam pengembaraannya tokoh si Kristen menemui berbagai karakter manusia; akhirnya sampailah si Kristen itu di depan kayu salib Kristus. Saat dia berlutut di bawah kaki salib Kristus, maka seluruh beban di atas punggungnya dapat terlepas. Jelas sifat tulisan dari John Bunyan bersifat alegoris untuk menggambarkan beban dosa yang harus ditanggung oleh manusia. Beban dosa tersebut tidak dapat terlepas kecuali kita menghadap salib Kristus. Bukankah gambaran dari tokoh si Kristen dan orang-orang yang dijumpai dalam pengembaraannya dalam buku John Bunyan tersebut menggambarkan kehidupan kita sehari-hari? Beban pergumulan dan dosa atau kesalahan kita hanya dapat terangkat lepas saat Kristus meneguhkan kita, bahwa kuasa maut pada hakikatnya telah dipatahkan karena Dia telah menyelesaikan karya pendamaian di atas kayu salib dengan sempurna.
Selama kita terus-menerus mencoba untuk memperoleh keselamatan dengan mengandalkan amal-ibadah, pahala dan perbuatan baik kita; maka kita akan selalu tergoda untuk berfokus kepada diri sendiri. Fokus kepada diri sendiri tersebut akan membuat mata hati kita tertutup kepada karya keselamatan dan anugerah yang telah disediakan oleh Allah. Itu sebabnya kita akan sangat giat melakukan berbagai perbuatan baik atau pahala demi kepentingan atau keselamatan diri sendiri; tetapi perbuatan baik tersebut bukanlah ditujukan untuk kemuliaan nama Allah. Dalam pemikiran “teologis” tersebut seolah-olah dalam kehidupan ini kita dapat mengendalikan keselamatan dan hidup kekal menurut kehendak dan kemauan kita sendiri. Kita lupa bahwa kita adalah umat yang telah berdosa dan telah jatuh di bawah kuasa dosa. Sehingga tidak seorangpun di antara kita dapat mengusahakan keselamatan dengan usaha atau perbuatan kita sendiri. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tergoda untuk menyelesaikan segala persoalan, kegagalan, dan dosa-dosa yang telah membelenggu kita dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Dalam hal ini kita seperti seekor kera yang terjatuh dalam kubangan lumpur maut. Makin dia berusaha naik ke atas, maka kera tersebut makin tersedot ke dalam lumpur. Demikian pula dengan diri kita. Karena kita terus berusaha naik ke atas dengan kekuatan diri sendiri, maka akhirnya tubuh kita makin terbenam dan terus tersedot dalam lumpur maut tersebut sehingga kita mengalami kematian. Jadi betapa berartinya makna “oleh darah Yesus” bagi kehidupan umat manusia yang secara eksistensial telah terjatuh dalam kubangan lumpur maut yaitu kuasa dosa. Sebab melalui korban Kristus, pada hakikatnya Allah telah menyediakan diriNya menjadi korban untuk meneguhkan, mengangkat dan menyelamatkan kita dari kubangan lumpur dosa, yaitu kematian.
Selain itu makna kematian Kristus membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita tidak pernah membuat diri kita hidup secara eksklusif. Karya Kristus yang mendamaikan tidak pernah mendorong kita untuk menjadi pribadi yang “cinta diri” dengan menutup relasi yang hangat dengan sesama. Sebaliknya karya Kristus yang mendamaikan dengan membuka jalan yang baru dan yang hidup senantiasa mendorong kita untuk menghayati makna dan tujuan hidup kita yang baru dalam persekutuan jemaat. Ibr. 10:25 berkata: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”. Artinya “jalan yang baru dan yang hidup” dari karya pendamaian salib Kristus hanya dapat kita temukan ketika kita sungguh-sungguh mau menghayati dan mempraktekkan persekutuan di tengah-tengah kehidupan jemaat. Kita tidak mungkin dapat menemukan karya Kristus yang mendamaikan ketika kita sengaja menjauh dari persekutuan jemaat, seperti kebaktian setiap hari Minggu dan berbagai kegiatan pelayanan gerejawi. Karya Kristus yang mendamaikan di atas kayu salib bukan hanya mendamaikan diri kita dengan Allah, tetapi juga mendamaikan diri kita dengan setiap sesama kita; bahkan juga karya Kristus tersebut mendamaikan diri kita dengan diri sendiri sehingga kita dimampukan untuk menerima keberadaan orang lain. Tujuannya agar jalan yang baru dan yang hidup dari Kristus tersebut dapat kita nyatakan dan hadirkan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu persekutuan demi persekutuan. Sehingga dalam setiap komunitas di mana kita hadir, senantiasa akan terjadi karya keselamatan Allah yang mendamaikan. Tugas ini tidak dapat kita elakkan karena sesungguhnya Kristus telah memanggil dan menetapkan kita untuk menjadi para hambaNya; yaitu kita dipanggil untuk mengkomunikasikan jalan yang baru dan yang hidup dalam karyaNya kepada dunia di sekitar kita. Jika demikian, bagaimana respon saudara? Maukah saudara menjadi alat dari Kristus untuk membuka jalan yang baru dan yang hidup di mana kita berada agar keselamatan Allah dapat terwujud? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
http://www.yohanesbm.com
Waktu Anda
Daftar Pengunjung
Mengenai Saya
- Yang Terlupakan
- Terkadang kita berada pada waktu dan posisi yang kurang tepat sehingga kadang kita harus merasa terkucilkan.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)